Selasa, 26 Oktober 2010

Tarigan 2 (kosku) do Mulana (cinta bersemi dan putus)

Cinta Lokasi yang trendi di kalangan anak muda terutama anak kos. Aku ga ketinggalan juga mungkin karena setiap hari saling ketemu pandang ahirnya muncul satu kata "CINTA". Selama tiga tahun bersama dia (mato) nama kerennya, susah senang, gila-gilaan, kami lalui bersama-sama. Tidak akan pernah lupa masa-masa indah itu dengan teman-teman yang lainnya yang sama-sama merasakan betapa serunya hidup dikos-kosan bisa dibilang semua serba kekurangan tetapi ini lah yang membuat aku mandiri sampai sekarang. Kembali ke masalah cinta, jujur ya kalau aku sudah saayng sama dia tetapi dia membuatku kecewa dan kekecewaanku itu memotivasiku untuk jadi wanita yang lebih kuat dan tangguh terutama tentang cinta, Puji Tuhan, sekarang saya sudah melupakan kekecewaan itu dan akan membuka hatiku lebar-lebar kepada sang pria yang akan menjadi pelipus lara dalam dunia percintaanku. Lagu di bawah ini sebagai lagu kenangan di masa lalu, dan biarlah berelalu seiring waktu berjalan dan semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

BUNI DI ATE ATE
Naeng do ho sai hupasiding
Alai maniak ate ate
Lam dao ahu laho manadinghon ho
Lam ganda sitaonon
Naeng do ho sai hulupahon
Siholhi so boi hutaon
Nunga tung balga jala tung bagas
Holong ni rohaku
Reff.:
Bereng ma dison buni di ate-atehon
Simpan dope goarmu
Bereng ma dison peak di pusu-pusuhon
Simpan dope gambarmu
Ndang tarbahen ahu hape
Mangalaupahon ho
Ndang tarbahen ahu ndang tarbahen ahu
Laho pasidinghon ho

Senin, 25 Oktober 2010

Aku, Pustakawati dan Perpustakaan

Aku, alumni salah satu smea swasta di daerah Samosir. Sewaktu duduk di bangku kelas 2 ga pernah tersirat dipikiranku bakalan melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi apalagi itu PTN jurusan Perpustakaan. Setelah duduk dibangku kelas 3 termotivasi oleh Tulang dan anak-anaknya yaitu sepupuku yang kuliah di USU. Lulus tahun 99 langsung go to Medan berencana mencoba UMPTN ternyata tidak lulus, tapi aku membulatkan tekad akan mencobanya kembali tahun depannya puji Tuhan Lulus di jurusan Perpustakaan D3 Fakultas Sastra atas perjuangan sendiri. Tiga tahun menjalani kuliah tamat tahun 2003 langsung bekerja di salah satu sekolah swasta yang ada di Medan. Merasa masih perlu melanjutkan kuliah D3, sehingga saya pun melanjutkan kuliah lagi di Ekstention  masuk 2005 selesai tahun 2008 awal dan menyandang gelar S.Sos. Pada tahun 2007  bulan Januari saya dapat panggilan bekerja di Perpustakaan Perguruan Tinggi hingga sekarang. Saya sangat menekuni pekerjaan saya sebagai pustakawan yaitu melayankan berbagai informasi kepada pengguna baik berupa buku, non buku maupun layanan digital seperti internet dll. Saya selalu memberikan layanan prima kepada pengguna perpustakaa yang merupakan tugas abadi saya. Inilah saya semoga tulisan-tulisan saya bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Perpustakaan adalah "Gudang Ilmu"

Banyak pelajar  saat ini sangat tergila- gila akan dunia hiburan yang disajikan tempat- tempat hiburan yang tersebar luas di kota- kota besar. Meskipun mereka pelajar yang tugasnya belajar, sekarang berganti tugas sebagai seseorang yang akan ketinggalan zaman jika tidak mengetahui tren mode. 
Padahal, jika dicermati semua hal tersebut tidak akan masuk sebagai soal dalam UTS, UAS.Mereka lebih paham tentang tren mode, gaya hidup tiap tahunnya dan semua hal yang berhubungan dengan dunia hiburan, daripada dengan pendidikannya.
Mereka jauh tertinggal di belakang dengan teman-teman mereka yang mempunyai anggapan bahwa pendidikan yang sedang mereka tempuh adalah prioritas utama. Jika dilihat dari hal tersebut mustahil mereka akan mengetahui bagaimana perkembangan ilmu saat ini ataupun sekadar tahu tentang materi yang telah mereka peroleh di sekolah.
Mereka lebih menyukai pergi ke tempat hiburan dibandingkan dengan sejenak membuka buku- buku di perpustakaan. Di mana perpustakaan merupakan salah satu "gudang ilmu" yang perlu disinggahi bagi mereka-mereka yang rindu akan ilmu pengetahuan.

Minggu, 24 Oktober 2010

Perpustakaan Wadah Rekreasi Dunia

  • Apakah yang terbayang di kepala kita saat berbicara tentang kondisi perpustakaan di sekolah kita? Yang mana hanya satu ruangan yang sempit dan sumpek yang bisa dibilang hanya berkisar 4x4m dengan debu berlengketan di setiap buku serta kurangnya cahaya matahari. Ataukah suatu kondisi ruangan yang membuat kita tidak betah berlama-lama, karena ketersediaan berbagai bahan bacaan  dan tatanan rak yang rapi berisi buku-buku? Kondisi perpustakaan sekolah di Indonesia secara umum sangat memprihatinkan di sebagian besar sekolah di negara kita ini belum menjadikan perpustakaan sebagai bagian yang teramat penting dalam proses belajar mengajar, dan ga usa heran di beberapa sekolah perpustakaan hanya dikunjungi dua  kali dalam setahun yakni pada waktu meminjam dan mengembalikan buku paket. Selain waktu itu perpustakaan sangat sepi pengunjung. Di samping faktor bahan pustaka yang kurang diikuti oleh tidak tersedianya petugas khusus perpustakaan sekolah. Kepala sekolah atau Ketua Yayasan sekolah sudah sepantasnya memikirkan bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai pusat aktivitas keilmuan. Kepala sekolah tidak hanya memikirkan ruangan kelas yang nyamana bagi siswa, namun turut pula merencanakan bagaimana menata ruangan perpustakaan yang strategis, nyaman dan membuat siswa betah berkunjung sebagai sebuah tempat berekreasi siswa setelah suntuk belajar di ruangan kelas. Diperpustakaan tidak hanya berisi buku paket saja, tetapi berbagai jenis buku bacaan mulai dari buku agama, sains, tekhnologi, fiksi dansebagainya. Di samping itu, bacaan seperti surat kabar, majalah, buletin dan sejenisnya hendaknya tersedia secara rutin. Petugas perpustakaan berperan mulai dari perencanaan sampai pengadaan dan perawatan bahan pustaka dan harus ngotot meminta prioritas dari pihak sekolah untuk pengadaan bahan-bahan pustaka. Perpustakaan yang ideal memang menjadi idaman bagi warga sekolah. Perpustakaan yang ideal barangkali sulit kita temukan, apalagi untuk tingkat sekolah, beruntunglah sekolah yang menyediakan layanan rutin dan ketersediaan bacaan yang bervariasi. perpustakaan sekolah sudah saatnya memikirkan semua itu. Sebagai kendala utama selain kurangnya memedainya SDM petugas perpustakaan, biasanya juga berkaitan dengan kurang tersedianya biaya rutin penyelenggaraan perpustakaan karena membutuhkan dana yang besar mengingat harga-harga buku yang mahal. Mengharap dari Pemerintah saja mungkin mustahil dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Untuk itu peran swasta dan para donatur terutama peran komite sekolah akan snagant bermanfaat demi kemajuan perpustakaan sekolah. Kalau hal ini dapat terwujud, maka perpustakaan sebagai pusat rekreasi bukan hanya khayalan atau angan-angan semata.

Jumat, 22 Oktober 2010

Tunggu aku di Perpustakaan itu

Seorang anak muda bernama samaran Anto, punya kebiasaan "gila". Bayangkan, Dia hanya menghabiskan waktu di Perpustakaan. Ia masuk ke Perpustakaan jam sembilan pagi lalu suntuk membaca buku dan baru keluar perpustakaan jam sembilan malam. Kehadirannya setiap hari membuat penjaga perpustakaan merasa "kesal" karena harus menunggui anak muda itu selesai membaca. Pantas saja pemikiran besar dan berpengaruh lahir dari kepalanya. Hampir semua pemikir dan penulis punya kecintaan besar terhadap buku. Bukan sekedar mengoleksi, tetapi juga membaca dan mengkaji secara mendalam. Perpustakaan dan buku menjadi harta paling berharga. Dapat digambarkan bahwa kalau dilihat dari materi keluarga anak muda ini adalah miskin. Tetapi ia punya harta pengetahuan dan punya wawasan yang luas. 
Oleh karena itu Buku dan perpustakaan menjadi ikon penting berbagai daerah yang telah menjadi pusat persebaran ilmu pengetahuan. Bagaimana dengan kita sendiri? apakah kita hanya berdiam diri? Mari kita ikuti tulisan ini yang selanjutnya.